Tren desain interior terus berkembang, tidak terkecuali lantai. Meskipun karpet menawarkan kenyamanan dan penyerapan suara, warna-warna tertentu tidak lagi disukai oleh para profesional. Menurut desainer Chris Goddard, beberapa warna karpet yang dulu populer kini membuat ruangan terasa kuno atau murahan. Panduan ini menguraikan warna mana yang harus dihindari dan menyarankan alternatif untuk tampilan yang lebih modern.
Menurunnya Karpet Abu-abu
Karpet abu-abu dulunya dianggap netral serbaguna, namun popularitasnya telah berkurang. Desainer kini mengasosiasikannya dengan ruangan yang hambar dan berkualitas rendah. Goddard menunjukkan bahwa tidak seperti dinding abu-abu, yang dapat menciptakan suasana nyaman, karpet abu-abu sering kali membuat ruangan terasa dingin dan umum – mengingatkan pada ruang istirahat kantor.
Bagi mereka yang mencari pilihan lantai netral, direkomendasikan karpet wol sisal, rami, atau tenunan ketat berwarna pasir. Tekstur alami ini memberikan keserbagunaan tanpa mengorbankan gaya.
Kejatuhan Berber
Karpet Berber, yang terinspirasi oleh tradisi tenun Afrika Utara, menjadi terkenal pada tahun 1980an dan 1990an karena harganya yang terjangkau dan tekstur melingkar yang mudah didekati. Namun, Goddard berpendapat bahwa hal itu sekarang terasa kuno.
Konstruksi melingkar cenderung memerangkap debu dan kotoran, dan warnanya yang sering kali tidak bersuara membuat kotoran sulit disembunyikan. Kepraktisan yang dulu membuatnya populer kini menjadi kelemahan dalam desain modern.
Menghindari Cetakan Grafis Besar
Karpet tebal dan bermotif pernah menjadi mode di tahun 1950an dan 60an, namun Goddard menyarankan untuk tidak menghidupkannya kembali. Cetakan grafis berukuran besar dapat memenuhi ruangan, membuatnya terasa seperti bioskop atau hotel murah.
Pola-pola ini juga sulit dipadukan dengan furnitur dan membatasi eksperimen desain. Penutup lantai yang dominan menyisakan sedikit ruang untuk pilihan estetika lainnya.
Mengapa Beige Bukan Lagi Pilihan yang Aman
Beige, seperti abu-abu, pernah dipandang sebagai warna netral yang sangat mudah. Namun, sekarang ini membangkitkan estetika tahun 1980-an dan dengan cepat menunjukkan kekotoran. Goddard mencatat bahwa warna netral terang seperti krem kehilangan daya tariknya setelah berminggu-minggu dipakai.
Di era penyesuaian, krem dapat terasa seperti penyerahan desain, kurang berkepribadian dan berekspresi.
Nuansa Biru dan Hijau
Karpet biru dan hijau, terutama warna seperti hijau alpukat, zamrud, biru tua, dan pirus, populer dari tahun 1960an hingga 1980an. Meski bernostalgia, Goddard menyarankan bahwa menggabungkannya membutuhkan niat.
Tidak seperti warna-warna usang lainnya, biru dan hijau dapat berfungsi jika dilakukan dengan bijaksana; tapi mereka jarang terlihat di rumah modern.
Kesimpulan: Memilih warna karpet memerlukan pertimbangan yang matang. Menghindari warna-warna ketinggalan jaman seperti abu-abu, Berber, cetakan besar, dan krem dapat mencegah ruangan terasa kuno. Meskipun warna biru dan hijau dapat dihidupkan kembali dengan sengaja, desainer menyarankan untuk memilih tekstur alami atau warna netral yang lebih modern untuk tampilan yang abadi.
